Kembali ke lap..top… (weleh, jadi latah ikod manusia terganteng se Indonesia ), maksudnya kembali ke judul di atas "Poligami, keadilan untuk siapa ?", mengutip sebuah acara yg disiarkan RCTI kemaren malem (071206) seiring dengan pers conference Aa’ Gym tentang beliau yang berpoligami dengan janda beranak 3 ( mantan model bo’, terang aja cakep euy.. )
Sebenernya kemaren ada duwa stasiun TV (RCTI & AN TV) yg menyiarkan dialog seputar poligami, dengan sehari sebelumnya SCTV telah mengangkat topik yang sama ( yg di SCTV nggak liat, ngeliat selebriti nge jam aja udah 1/2 hati ).
Well, saya tidak membahas lebih lanjut ttg apa isi dialog - dialog tsb, tp saya mau mencoba mengutarakan opini pribadi saya (meski saya anggap opini pribadi ini mencoba bersifat se-objektif mongken).
Begini rekan, saya tetap berpegang pada nash dasar ttg poligami dlm Islam *karena kebetulan saya seorang moslem, bahwa poligami dalam Islam adalah boleh. (Catatan : poligami bukan produk Islam, tp sdh ada jauh sebelum Islam lahir. Islam hanya mengatur / membatasi hanya empat sajah)
Nha, karena memang hukum dasarnya boleh, jd sebaiknya kita bersikap spt ini :
1. Bagi yang tidak setuju berpoligami, tidak perlu menghujat orang yang melakukan poligami.
Jadi kalo skr ada orang2 termasuk artis yg bersuara lantang menentang poligami, saya kira kurang tepat. Menurut cerita yg saya dengar waktu khotbah jum’at tadi, seorang suami tidak bisa melakukan poligami jika ternyata istri tidak ridlo / rela jika dimadu.
Klo ingin tidak ada poligami, sebaiknya dikampanyekan saja agar para istri tidak mau dimadu, saya kira lebih fair drpd dengan menentang ajaran poligami itu sendiri.
2. Bagi yang telah berpoligami, tidak perlu mengampanyekan diri bahwa poligami adalah baik, berprestasi, dll Karena memang keadilan yg dimaksud dlm syarat berpoligami sangat luas
& bisa menjadi sangat subjektif pengertiannya.
So, bagaimana dengan anda ?
|