“Gus Dur, tangkap bupati Haeny”
Begitulah kalimat yg aku baca dr sebuah iklan koran pagi terbitan Surabaya (aku nggak sempat baca koran apa itu, karena sambil jalan) di jembatan kali rolak.
Spontan aku ingat kejadian “Tuban Membara” pd tgl 29 April 2k6 kemarin, karena Bupati Haeny adalah `korban` dalam kerusuhan masa itu, dmn pendopo Bupati Tuban yg habis dibakar massa, kantor KPU Tuban, rumah pribadi Bupati, sebuah hotel, dan SPBU yg tak luput dr amukan massa.
Semua kejadian itu tentu pantas membuat kita semua mengelus dada, prihatin dengan aksi provokasi yang menyebabkan tindakan anarkhis.
Terlepas dr siapa yg salah, krn memang saya nggak kompeten untuk menilai, tentunya kita semua setuju jika aksi anarkhis bukan menyelesaikan suatu masalah.
Kemudian saya berpikir begini “Apa yach yg sdg berada dlm otak provokator itu, setelah massa berhasil membakar beberapa bangunan yg disinyalir sbg lambang kekuasaan Bupati Haeny ?”
Apakah saat ini provokator tsb sdh puas terbahak - bahak ?
Atau malah dari hati nuraninya dia menangis jika membayangkan kejadian itu menimpa pada dirinya ?
Kembali ke kalimat yg tertulis di iklan koran pagi di atas, saya juga tdk setuju dengan bunyi kalimat tersebut.
Jelas sekali nada kalimatnya bersifat provokatif, meski saya nggak yakin isi dari berita seluruhnya akan sama dengan bunyi iklan tadi.
Coba deh kita bayangin, jika yg baca tulisan tersebut langsung menelan mentah2 kalimat di atas, apalagi dia adalah seseorang yg mengidolakan (klo tdk boleh disebut fanatik) terhadap kharisma seorang Gus Dur !!
Apakah salah jika akhirnya bisa ditafsirkan menjadi begini “Halal hukumnya menangkap Bupati Haeny ?”
Saya prihatin dengan bunyi kalimat di atas