Sabtu, 22 April 2006 Jam 21.30 – 23.00 @ SCTV
Peserta :
1. Roshiana Silalahi : Moderator
2. Ponti Corolus : Play Boy Indonesia
3. Fauzan : MMI
4. Ade : pengamat/tokoh komunikasi
5. someone : Dewan Pers Indonesia
6. Jefry AB : tokoh agama Islam
7. Nathan S : pendeta / tokoh agama
8. audiens dr paramadina
Kesimpulan yang saya tangkap dr masing2 peserta *terlalu banyak klo harus saya tulis semuanya, bukan apa2, karena saat ini mata saya sdh ngantuk berat
1. PONTI COROLUS – MAJALAH PLAY BOY INDONESIA
Ponti masih dengan percaya diri berusaha mencari pembenaran dr terbitnya majalah Play Boy menggunakan dalih majalah lain yg lebih berani dr Play Boy juga masih banyak, kenapa hanya Play Boy yang di sweeping ? Selain itu juga masih mempertanyakan dari segi hukum yang berlaku di negara Indonesia.
2. FAUZAN – MAJELIS MUJAHIDIN INDONESIA
Menyatakan Play Boy haram, dan wajib hukumnya untuk ditarik peredarannya.
3. ADE – PENGAMAT / TOKOH KOMUNIKASI
Secara pribadi dia terganggu dengan adanya Play Boy yang terjual bebas bahkan bisa ditemukan dengan mudah di jalan, karena juga mengganggu dia secara pribadi sebagai manusia beragama. Lebih bijaksana lagi jika majalah Play Boy dan majalah sejenis yang lain punya tempat khusus untuk penjualannya.
4. SOMEONE – DEWAN PERS INDONESIA
Perlu diterbitkan undang – undang tentang pendistribusian majalah sekelas Play Boy dan lainnya, agar tdk terdistribusi di sembarang tempat.
5. JEFRY AB – TOKOH AGAMA ISLAM
Saya hanya akan kutip analogi yang diberikan Ustad Jefry tentang aksi sweeping yg dilakukan oleh FPI terhadap majalah Play Boy *tanpa bermaksud melakukan pembenaran atas tindakan tersebut, karena 100% saya juga tdk setuju dengan aksi FPI :
Misalkan tetangga kita ada yg muter tape/radio keras2, terus ada tetangga yg ngingetin “Mas, klo muter tape jangan kenceng2, ada orang tua sakit dan di sana ada anak bayi. Kasian keganggu nanti.”
Dan ternyata org tadi nggak nge gubris, sampe akhirnya dilaporin ke RT. Pak RT dateng, br dikecilin volume radionya.
Besoknya dia ngelakuin hal yg sama, trs dilaporin ke RW, baru setelah Pak RW dateng dia kecilin lagi volume radionya.
Ternyata esok harinya dia mengulangi perbuatan yg sama, maka berbondong – bondong tetangga pada datang ke rumah orang itu.
Ada yg langsung marah, ada yg langsung nonjok, tapi ada pula yg melerai dan bilang untuk sabar.
Jadi itu adalah reaksi yg berbeda – beda dr masyarakat Indonesia yg jumlahnya sekian banyak.
Namun jika kita mau jujur dengan hati nurani, semua yg dikatakan oleh Ustad Jefry adalah benar. Tidak ada asap, jika tidak ada api.
6. NATHAN S – PENDETA / TOKOH AGAMA
Pendeta Nathan meminta pertanggung jawaban moral dari pihak Play Boy, karena bagaimanapun terbitnya majalah Play Boy bisa merusak moral generasi muda bangsa ini.
Sekarang, saya akan coba kemukakan opini saya pribadi menanggapi terbitnya majalah Play Boy.
Saya tidak akan menjadi orang munafik dlm hal ini, krn saya juga suka melihat gb, membaca cerita.
Namun saya tdk pernah dengan bangga hati mengajak org lain untuk ikut bersama saya jika saya sdg nikmat melakukan dosa.
Sebenarnya yg dipermasalahkan bukan nama “Play Boy” yg melekat pd majalah tersebut, karena kita juga tau banyak sekali majalah sejenis yg lebih heboh dan lebih lama terbit ketimbang Play Boy.
Tapi kenapa baru heboh di saat majalah Play Boy ini terbit ?
Sebenarnya yg membikin heboh adalah terbitnya majalah Play Boy di saat yg tdk tepat, ditengah ramainya pro – kontra RUU APP.
Jadi bagi sebagian orang, dengan terbitnya Play Boy di saat begini sama aja dengan nantangin dan melecehkan. *menyiram minyak di atas api ![]()
Maka sdh menjadi konsekuensi logis jika akhirnya ada aksi sweeping dan tindakan anarkhis seperti itu.
Dan jika ada suatu organisasi masa semacam FPI melakukan sweeping, ini sebagai bukti ketidak percayaan masyarakat terhadap tegaknya hukum di Indonesia.
Karena kita semua juga tau, bagaimana hukum di Indonesia bisa dibeli oleh penguasa dan para pemilik modal guna kepentingan politik atau business nya semata.
Ada satu hal menarik dr debat tersebut yg dapat saya kemukakan berdasar komentar dari pendeta Nathan S., ini menunjukkan bahwa semua ajaran agama tidak setuju dengan adanya pornografi, jd jika ada yg mencoba mendiskreditkan salah satu agama saja dlm hal ini, maka isu tersebut terbantahkan.
Oleh sebab itu, menurut saya pribadi, saya setuju untuk penerbitan majalah – majalah dewasa dikaji ulang. Bukan hanya Play Boy, tapi majalah sejenis seperti Popular dll.
Yang paling bijaksana adalah meng-kaji ulang pendistribusiannya, harus benar2 eksklusif untuk kalangan tertentu, di tempat – tempat tertentu, dan dengan pengawasan yg ketat pula.
Lagi2 ini menurut pengalaman pribadi ye, beredarnya majalah dewasa secara bebas sangat merusak mental remaja ( masa2 puber SMP – SMA ), krn dulu jaman2 smp – sma liat majalah2 begituan langsung berdesir dan pikiran dah kemana – mana. Ngeres pokoknya ![]()
Tapi lain lagi dengan sekarang, liat majalah begituan efeknya sdh jauh berbeda dengan masa2 puber dulu.
Jadi kalo kita sdh terlanjur rusak mentalnya, janganlah kita merusak mental anak cucu kita. Berbicaralah dengan hati nurani, dan jangan masalah ini menjadi sentimen terhadap salah satu agama.
*warga negara Indonesia, yang perduli dengan nasib bangsa – 230406 @ 00.15


